Extrovert Juga Manusia: Tumbuh di Antara Lelah dan Tanggung Jawab

,

·


🌟Tampak Kuat, Tapi Sebenarnya…

Halo.

Saya orang yang dikenal aktif, ramah, supel, dan selalu siap sedia. Dari SMA saya aktif di berbagai kegiatan dan organisasi.

Saat kuliah di Ekuitas University, saya aktif di koperasi mahasiswa, terpilih menjadi Queen Koperasi Mahasiswa 2026, suka ikut berbagai kepanitiaan. Di luar itu, saya juga menjalankan usaha kuliner bernama CEO Kalcer.

Dari luar, saya terlihat seperti orang yang energinya tidak pernah habis.

Tapi hari ini saya ingin jujur. Saya ingin menulis sesuatu yang jarang saya tunjukkan di depan banyak orang. Bukan untuk mencari simpati, tapi untuk mendokumentasikan sisi lain dari perjalanan belajar saya.

Saya adalah seorang extrovert. Tapi saya juga pernah lelah. Sangat lelah.


🔋 Social Battery: Mitos Tentang Extrovert

Banyak orang berpikir extrovert tidak pernah kehabisan energi sosial. Mereka pikir kami bisa bicara, bertemu orang, dan berorganisasi setiap saat tanpa henti.

Itu tidak sepenuhnya benar.

Saya sangat menikmati interaksi sosial. Saya suka bertemu orang baru, bekerja dalam tim, dan menjadi pusat perhatian sesekali. Tapi saya juga punya batas. Ada kalanya social battery saya habis total.

Ciri-ciri social battery saya habis:

  • Tiba-tiba malas membalas pesan WhatsApp.
  • Ingin menyendiri meski hanya sebentar.
  • Merasa lelah bukan karena fisik, tapi karena terlalu banyak “berpura-pura baik-baik saja”.
  • Ingin menangis tanpa alasan yang jelas.

Tapi masalahnya: saya tidak bisa selalu berhenti.

Ada rapat yang tidak bisa ditunda. Ada pesanan makanan yang harus diproses. Ada acara kepanitiaan yang butuh koordinasi. Ada tugas kuliah yang menumpuk.

Saat social battery habis, rasanya ingin menghilang sehari. Atau seminggu. Tapi tanggung jawab tidak peduli dengan rasa lelah saya.

Maka yang sering terjadi adalah:

Saya tetap datang ke rapat. Saya tetap tersenyum. Saya tetap berbicara dengan energi tinggi. Saya tetap menjadi “aku yang ceria” di depan orang lain.

Tapi di dalam hati, saya sedang berjuang.


🗣️ Talkative But Need to Be Heard: Antara Bicara dan Didengar

Saya sadar: saya orang yang talkative. Saya suka bercerita, berpendapat, berdebat sehat, bahkan sekadar bercanda. Di organisasi, saya sering menjadi penyambung lidah tim. Di acara kampus, saya tidak kesulitan untuk tampil dan berbicara.

Tapi ada ironi yang kadang menyakitkan.

Semakin banyak saya bicara, semakin sedikit orang yang benar-benar mendengarkan.

Saya pernah berada di situasi:

  • Sedang curhat tapi dipotong dengan “Mending kamu lakuin aja ini…”
  • Sedang bercerita tapi lawan bicara malah sibuk scrolling HP.
  • Sedang menjelaskan perasaan tapi dijawab “Ya sudah, santai aja.”
  • Sedang butuh didengar, tapi orang malah sibuk memberikan solusi yang tidak saya minta.

Saya bukan selalu butuh solusi.
Saya bukan selalu butuh nasihat.
Saya bukan selalu butuh dibetulkan.

Kadang saya hanya butuh seseorang yang diam, mendengarkan, dan berkata, “Aku dengar. Aku di sini.”

Yang Saya Harapkan dari Orang Lain (Tapi Sulit Saya Minta)

Yang sering terjadiYang saya butuhkan
Dipotong saat bicaraDidengar sampai selesai
Diberi solusi cepatDiberi ruang untuk curhat
Dibilang “kamu terlalu banyak pikiran”Dibilang “ceritakan saja”
Dianggap selalu baik-baik saja karena banyak bicaraDiperhatikan perubahan nada bicara saya

Dan karena saya sulit meminta ini—karena saya takut terlihat lemah atau merepotkan—saya sering memilih diam pada akhirnya. Padahal diam bukanlah solusi. Diam hanya membuat beban saya semakin berat.

Kadang, di balik banyaknya kata yang keluar dari mulut saya, ada yang tidak terucapkan: “Tolong, dengerin aku.”


🎭 Kuat dan Ceria di Depan, Rapuh di Belakang

Inilah realita yang jarang saya tunjukkan:

Di Depan Orang LainDi Belakang (Sendirian)
Selalu tersenyumSering menangis di kamar
Terlihat percaya diriPenuh keraguan dan overthinking
Bisa memotivasi timButuh dimotivasi
Sibuk mengurus orang lainTidak punya energi mengurus diri sendiri
Mengatakan “gapapa aku kuat kok”Sebenarnya ingin didengar

Saya menjadi sangat pandai berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Saya belajar untuk menekan rasa lelah, menyembunyikan air mata, dan tetap berfungsi.

Saya rapuh. Tapi saya tidak ingin orang lain melihat kerapuhan itu.


🤝 People Pleaser: Beban yang Tak Terlihat

Saya juga harus mengakui: saya seorang people pleaser.

Saya sulit mengatakan “tidak”. Saya takut mengecewakan orang lain. Saya rela mengorbankan waktu istirahat, kesehatan mental, bahkan kebahagiaan saya sendiri hanya agar orang lain merasa nyaman.

Contoh kecil:

  • Saya tetap datang ke acara padahal lelah.
  • Saya bilang “iya” padahal pengen banget bilang “enggak”.
  • Saya maafin orang padahal masih sakit hati.
  • Saya tetap bantu orang lain meskipun urusan saya sendiri belum beres.

Menjadi people pleaser itu melelahkan. Tapi saya tidak tahu bagaimana cara berhenti.


💔 Saat “Capek” Datang

Ada beberapa momen dalam hidup saya di mana semuanya terasa berat. Bukan capek fisik, tapi capek jiwa.

Saya ingat suatu hari setelah rapat yang panjang. Semua pulang dengan senyum karena acaranya sukses. Tapi saya sampai di rumah, duduk di lantai kamar, dan tidak bisa berhenti menangis.

Bukan karena ada yang salah. Hanya saja… saya lelah. Lelah menjadi kuat sepanjang waktu. Lelah menjadi tempat sandaran banyak orang. Lelah menekan semua perasaan agar tidak mengganggu siapapun.

Dan di hari itu, saya bertanya pada diri sendiri: “Sampai kapan aku bisa terus begini?”


🌱 Apa yang Saya Pelajari dari Semua Ini?

Setelah melalui beberapa kali jatuh dan (berusaha) bangkit, saya belajar beberapa hal penting.

1. Tidak apa-apa menjadi tidak baik-baik saja.

Saya tidak harus selalu kuat. Saya tidak harus selalu ceria. Menunjukkan sisi rapuh bukan berarti saya lemah. Itu berarti saya manusia.

2. Social battery perlu diisi ulang, dan itu bukan keegoisan.

Saya mulai belajar mengatakan:

  • “Hari ini aku butuh me-time.”
  • “Aku belum bisa bantu, maaf.”
  • “Aku capek, boleh kita lanjut besok?”

Awalnya terasa egois. Tapi ternyata, ketika saya menjaga diri sendiri, saya bisa hadir lebih baik untuk orang lain.

3. People pleaser bukan gaya hidup berkelanjutan.

Saya masih belajar mengatakan “tidak”. Masih belajar bahwa mengecewakan seseorang kadang diperlukan untuk menjaga diri sendiri. Ini proses. Tidak instan. Tapi saya berusaha.

4. Saya tidak sendiri.

Saat saya mulai terbuka (meski hanya sedikit), saya menyadari banyak teman yang merasakan hal yang sama. Mereka juga lelah. Mereka juga berpura-pura kuat. Tapi kita saling tidak tahu.

5. Saya berhak didengar meskipun saya banyak bicara.

Saya mulai belajar bahwa menjadi talkative bukan berarti saya harus selalu menjadi pendengar. Saya juga berhak mendapatkan telinga yang sabar. Saya juga berhak meminta: “Maaf, boleh saya selesaikan dulu ceritanya?”

Saya juga mulai belajar memilih orang. Tidak semua orang layak mendengar cerita saya. Tidak semua orang bisa mendengarkan tanpa menghakimi. Dan itu tidak masalah.

Lebih baik bercerita kepada satu orang yang benar-benar mendengarkan, daripada bercerita di depan banyak orang yang hanya menunggu giliran bicara.


🛠️ Eksperimen yang Sedang Saya Coba (Untuk Mental Health)

Karena website ini juga tentang eksplorasi, saya dokumentasikan apa yang sedang saya lakukan untuk menjaga diri:

EksperimenStatusCatatan
Journaling setiap malamMulaiMenulis apa yang saya rasakan, bukan hanya apa yang saya lakukan.
Mengatur batasan (boundaries)ProsesBelajar bilang “tidak” untuk hal-hal yang bukan prioritas.
Me-time terjadwalCobaMinimal 30 menit sehari tanpa interaksi dengan siapa pun.
Bicara ke teman terpercayaBerjalanTidak semua beban harus ditanggung sendiri.
Stop overthinking dengan timerEksperimenKasih waktu 10 menit untuk overthinking, lalu berhenti.
Mencari satu “pendengar aman”BerjalanMenemukan teman yang bisa diajak curhat tanpa interupsi.
Mengatakan “aku butuh didengar” secara langsungCobaLatihan meminta apa yang saya butuhkan, meski canggung.
Berhenti bicara jika tidak didengarkanEksperimenMemberi batasan: jika tidak dihormati, saya tidak perlu melanjutkan.

🍜 Catatan Kecil tentang CEO Kalcer

Sebelum saya tutup, satu lagi: di sela-sela semua kesibukan ini, saya menjalankan usaha kuliner rumahan bernama CEO Kalcer. Menu andalan: Dimsum Kalcer, Wonton Chili Oil, Puding Sedot, dan catering untuk berbagai acara.

CEO Kalcer adalah bukti nyata bahwa seorang aktivis juga bisa menjadi pebisnis. Saya belajar manajemen stok, pricing, marketing lewat medsos, dan tentu saja… time management. Pernah suatu malam saya sambil mengukus dimsum sambil ikut zoom rapat panitia. Itu seni.

Bisnis ini mengajarkan saya bahwa lelah itu nyata, tapi hasil juga nyata.


🌈Masih Terus Belajar

Saya belum sembuh total. Saya masih sering lelah. Saya masih kadang menangis di malam hari setelah seharian tersenyum.

Tapi saya sedang belajar. Belajar bahwa menjadi extrovert bukan berarti saya tidak boleh lelah. Belajar bahwa menjadi people pleaser bukanlah keharusan. Belajar bahwa kerapuhan bukan aib.

Dan satu lagi yang ingin saya catat di sini:

Jika suatu hari saya berbicara lebih banyak dari biasanya, jangan buru-buru menyebut saya lebay atau terlalu berisik. Mungkin saat itu saya hanya sedang mencari satu telinga yang benar-benar mau mendengar.

Karena orang yang paling banyak bicara, seringkali adalah orang yang paling lama tidak didengarkan.

Terima kasih sudah membaca cerita yang jarang kuceritakan ini.


Salam dari seseorang yang sedang belajar untuk baik pada dirinya sendiri juga.

Alya Salsabila


Comments

2 responses

  1. yossy Avatar
    yossy

    keren 👏🏻👏🏻

    1. mamiiii😍😍

Leave a Reply

Discover more from Alya Salsabila

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading